This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Anak dan Permasalahanya.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak dan Permasalahanya.. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 November 2011

Peduli Kepada Anak Dapat Melatih Kecerdasan Emosi

Kebiasaan Berbagi Melatih Kecerdasan Emosi Anak

Ajarkan anak untuk menyisihkan uangnya, kemudian berbagi  kepada orang  lain yang tidak mampu.
Tak butuh rumus yang rumit untuk mencetak anak cerdas secara emosi. Melatih anak untuk membangun kebiasaan berbagi atau menolong orang lain yang membutuhkan bisa membantunya mengembangkan empati dan kecerdasan emosi. Kecerdasan emosi inilah yang menjadi penyumbang terbesar untuk mencetak anak yang sukses, bahagia, termasuk membentuk karakter kepemimpinan dalam dirinya.

Psikolog Rustika Thamrin, SPsi, CHt, MTLT, menjelaskan, kecerdasan emosi memberikan kontribusi 80 persen atas kesuksesan dan kebahagiaan seseorang dalam hidupnya.

"Saat anak mengembangkan empati, dengan membangun kebiasaan berbagi, ia sedang mengembangkan kercerdasan emosinya," kata pakar parenting yang akrab disapa Tika ini, setelah talkshow "Habit of Giving = Determination to Start + Consistency", yang diadakan oleh Tango bekerja sama dengan KidZania, di KidZania, Jakarta, Kamis (20/1/2011).

Manfaat berbagi
Kecerdasan emosi yang dikembangkan dalam diri anak, dengan melatih kepekaan dari kebiasaan berbagi, memberi manfaat positif dalam tumbuh kembang anak. Tika menyebutkan, anak yang terbiasa berbagi dan peduli kepada orang lain memiliki kemampuan komunikasi yang lebih bagus, baik verbal maupun nonverbal. Dengan begitu, anak memiliki kemampuan kepemimpinan yang jauh lebih baik lagi.

Ketika anak memberi, kata Tika, ia sedang belajar berempati, melatih kepekaan sosial. "Saat memberi ia menempatkan dirinya pada posisi orang yang dibantu," lanjutnya. Jika karakter seperti ini sudah menjadi kebiasaan, anak akan tumbuh dengan kecerdasan emosi yang lebih matang.

Kepedulian dan kepekaan anak seperti ini bisa dilatih melalui berbagai kebiasaan kecil di keluarga. Seperti yang diterapkan oleh Yeffi Rahmawati, pekerja media, bersama anaknya, Rakha. Melalui program "Toples Perubahan", Yeffi, juara kedua lomba "Sahabat Tango Spread Miracle", mengajak anaknya menabung sisa uang jajan dalam toples. Jika toples kaca sudah penuh, mereka mencari orang lain yang membutuhkan bantuan. Langkah sederhana ini terbukti memberikan dampak positif pada diri Rakha. Yeffi menceritakan, Rakha kini justru lebih sering mengingatkan orangtuanya untuk lebih sering lagi berbagi bersama orang lain yang membutuhkan.

Ibu, terutamanya, memegang peran penting dalam membangun kebiasaan dan karakter ini, kata Tika. Selain itu, dibutuhkan juga kerja sama yang kompak antara ayah dan ibu sehingga anak bisa mendapatkan teladan yang baik. Bagaimanapun anak membutuhkan role model untuk menumbuhkan kepedulian dalam dirinya

Bagaimana Merespon Emosi Anak Yang Negatif

4 Cara Merespons Emosi Negatif Anak


Orangtua perlu memahami dan mendengarkan anak, agar anak merasa nyaman dan mampu mengatasi emosi negatifnya.
Artikel Terkait:
4 Tahapan Atasi Masalah Emosi Anak
Kebiasaan Berbagi Melatih Kecerdasan Emosi Anak
Banyak Orangtua Abaikan Emosi Anak
Perlakuan Tepat, Emosi Anak Berkembang Optimal

KOMPAS.com - Jika pola asuh tak sesuai dengan usia anak, kelewat mendikte, terlalu menuntut lebih, anak harus pintar dan sempurna, serta lainnya sejenis itu, akan membuat anak merasa tak nyaman dan emosi negatifnya semakin menjadi. Orangtua perlu mempraktikkan enam pilar pola asuh positif, salah satunya memahami emosi negatif anak.

Kunci memahami emosi negatif anak adalah mendengarkan keinginan anak, karena kebutuhan anak adalah keinginan didengar, dipahami, dihargai, dilindungi, dan lain-lain. Saat anak sedang marah atau mengalami emosi negatif, orangtua sebaiknya melakukan tip di bawah ini:

1. Validasi atau pahami perasaan atau emosi negatif anak. Misal, "Ayah paham perasaanmu yang sedang sedih, coba ceritakan kepada Ayah supaya kamu lega." Dengan cara ini, anak merasa didengarkan.

2. Hindari memperbaiki perasaan anak. "Ayah tidak suka wajah kamu yang merengut. Coba lihat di cermin." Tanggapan seperti ini hanya akan memblok perkembangan emosional intellegence anak. Biarkan anak mengekspresikan emosi negatifnya, tentu dengan cara yang tidak berlebihan.

3. Berikan batasan, seperti, "Ayah paham, kamu marah. Tapi kamu harus tetap menjaga diri dengan baik. Ayah sayang kamu, Nak." Tujuannya, supaya anak tidak melakukan aksi fisik, ngamuk, melempar barang, dan sebagainya.

4. Berikan pilihan dan dukungan saat anak sudah tenang. Hindari pertanyaan, "Kenapa kamu marah?" Sebaiknya, "Ayah perhatikan, kamu sedang kesal. Ada apa, Sayang?" Pun hindari menyalahkan anak saat ia mengungkapkan kekesalannya, tapi berikan dia waktu untuk menyampaikan perasaan dan pikirannya. Setelah itu, berikan dukungan kepadanya.

(Tabloid Nakita/Irfan Hasuki/Gazali Solahuddin/Hilman Hilmansyah)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More